Sudah terlambat, kawan
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki. Kemudian semakin mendekat dan semakin jelas. Seseorang mengetuk pintu kamarku dengan keras. Sontak saja aku terbangun dan berlari menuju sumber suara.
"Bangunmi nak, maumi jam 4", kata wanita tersebut sambil mengetuk ngetuk pintu.
"Iyye Miss". Jawabku.
Ya, wanita itu adalah pembina asramaku. Namanya Mrs. Yuli. Aku tinggal di asrama tahfidz Sekolah Islam Athirah Bone. Tentunya, asrama tahfidz berbeda dengan asrama reguler. Selain perbedaan target hafalan dan mata pelajaran yang dipelajari, pembagian kamar di asrama reguler dan tahfidz juga berbeda. Kalau biasanya tiap kamar hanya ada 4 orang, berbeda dengan kamar di asrama tahfidz. Hanya ada dua kamar yang pada masing-masing kamarnya dihuni oleh 12 siswi.
.
.
.
Ting.. Ting.. Ting...
Bunyi sendok dan piring saling beradu berdenting. Aku mengunyah dengan cepat secepat yang aku bisa. Hari ini hari yang penting. Ada acara yang diadakan di sekolah. Acara yang diadakan tiap tahunnya, lomba untuk tingkat SMP/Mts dan SD/MI.
Tenda-tenda bazar sudah berdiri sejak kemarin. Begitu pula dengan panggung utama yang sudah dihias rapih. Orang-orang sudah berdatangan. Para peserta, pendamping, dan panitia sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Aku dan temanku, Nur dan Febri bersiap-siap didekat panggung. Karena kami akan mengisi acara pembukaan. Oh yah, kami bertiga penghuni kamar tahfidz.
Tiba-tiba, perutku sakit, jadi aku izin ke toilet sebentar.
"Minta izinka dulu nah, ada panggilan alam". Kataku lalu segera berlari.
Aku bergegas menuju panggung setelah selesai dari toilet. Tapi, ditengah perjalanan ibu Fina memanggilku.
"Nak, mana temanta Nur?, Panggilkanka dulu suruh ke ruanganku". Kata Bu Fina.
"Iye bu." Kataku lalu bergegas mencari Nur.
Setibaku disana, aku tidak menemukannya, lalu aku bertanya pada Febri.
"Febri, mutau dimanai Nur? Dicari i sama Bu Fina" kataku sambil terengah-engah.
"tidak kulihat juga. Pergika tadi, tapi pas kembalika tidak adami." Balas Febri.
"Oke, mauka pale cari i". Lalu aku
berkeliling mencari Nur. Setelah berkeliling tetap saja aku tidak menemukannya. Aku menyerah, lalu melapor ke Bu Fina. Tapi, katanya, Nur sudah bertemu dengannya. Akupun lega.
.
.
.
Acara akan dilanjutkan esok hari, sekarang sudah sore. Akupun bergegas mandi, membersihkan diriku dan bersiap-siap untuk sholat magrib. Segar rasanya setelah mandi. Rasa gerah dan penat seharian hilang seketika. Baru saja aku menyimpan peralatan mandiku. Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan. Aku terkejut lalu menoleh ke sumber suara tangisan itu. Rupanya itu Nur, ia terisak. Ia duduk diatas kasur. Aku menghampirinya. Kebetulan cuma ada aku, Nur, dan kak Ayja yang ada dikamar.
"Kenapaki Nur?" Tanya kak Ayja kebingungan.
Nur terus menangis, lalu kami menenangkannya sampai akhirnya ia mau bercerita.
"M m mutau ke ke napa dipanggilka?", " Di di di DO ka" . Kata Nur sambil terisak.
Kami terkejut, tangisku pun pecah. Tak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin. Nur? Dia melakukan kesalahan apa? dia anak yang baik.
kak Ayja mencoba menenangkan kami.
"Sshuut. Sudahmi pa terlanjur mi juga. jangan menangis. Nur, kenapa bisa?" Tanya kak Ayja penasaran.
"Masih muingat waktu dikumpulkan ki? Bertanya tanya pimpinan tentang toko Fadil?" Kata Nur sambil mengelap air matanya.
Seketika aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu, hari itu seluruh siswi smp dikumpulkan. Dan ditanya tanya tentang kegiatan kita saat ke pasar. Oh yah, tiap hari Ahad kami diizinkan ke pasar. Ternyata ada siswi yang terekam cctv sedang mengambil sesuatu tanpa membayarnya. Dan hari itu tidak ada yang mengaku. Aku benar-benar tak menyangka jika itu Nur.
"Kenapa bisa begitu ki Nur? Kalau ada kebutuhan ta kenapa tidak bilangki?" Kata kak Ayja lesu.
"Biarmi kak, terlanjur mi. Tidak tahu juga kenapa begituka. Menyesalka. Tapi maumi diapa" Jawab Nur pasrah.
Penghuni kamar mulai berdatangan dan bingung kenapa kami menangis. Lalu setelah mengetahui apa yang terjadi kami pun menangis bersama. Kami tidak menyangka Nur yang terkenal dengan hobinya membaca novel, ramah, dan rajin itu pelakunya. Benar yah, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja.
.
.
.
Mobil itu bergerak menjauh meninggalkan Sekolah Islam Athirah Bone. Ditengah acara yang masih berjalan. Yang seharusnya penuh kebahagiaan. Aku kehilangan.
-Afifa Azzahra
terangkai menjadi sebuah cerpen
BalasHapus